Jumat, 22 Januari 2021

CORONA YANG BIKIN GELISAH

Karya : Adi

 


Lebih dari tujuh purnama corona mengintai sampai ke dalam lembah meski lembab dan gemuruh curup berderap : ia tetap menyergap.

Serombongan kelelawar bersemedi dalam goa, tanpa kerlip matahari : apa lagi lampu disco dan jeritan disc jockey yang tiba-tiba tersedak paru-parunya

Corona virus disease 19 menusuk tak kenal ampun : ibu hamil terpapar, bayi mungil menggelepar, buruh, petani, dokter, karyawan pabrik, pendidik, ilmuwan, polisi, pejabat publik, hingga dukun klenik meratap dalam kesendirian :

pesakitan berdebar menunggu vonis tembak mati !

 


Hanya munajat terus dipanjatkan

berharap duri-duri kasat mata serupai ini terhapus jejaknya

berharap restu bumi menamatkan perjalanan panjangnya

: yang mencekam, penuh fitnah, amarah tak berarah, menutup jalan istirah yang berkah.

 


Hari ini, hujan september kembali wartakan corona yang mencemaskan.

 


anak-anak ku tak lagi bernas melepas baju sepulang sekolah

rindu bangku sekolah dan berkejar-kejaran di selasar langgar

bubur kacang hijau usir embun

menggigil di beranda

 

 

2021

MAWAR DIBATAS MUSIM

Karya : Aku

 

Di bibir pantai, ombak

dihempas angin utara

menebar sampah

Barisan pohon waru berdesah

dibatas musim sebelum sore mengubur

jejak matahari

Januari begitu basah,

membangunkan lagi kehidupan.

Dan kau masih teronggok disudut benakku,terpatri disitu  bagai

sebatang mawar berduri.

Aku tak ingin memindahkan mu

pada vas bunga, cukup sudah durimu melukai.

Namun, kau tetap indah dimata