Selasa, 11 Mei 2021

LEBARAN TANPA MUDIK ASYIK.

Banjit--Kalau sudah mendekati Hari Raya Idulfitri, tak afdol rasanya jika tidak mudik. Terutama bagi yang jauh dari kampung halaman.

Karena kata mudik itu sendiri, sesuai dengan KBBI (Kamus Besar Bahasa Indonesia) berarti pulang ke kampung halaman. Ada juga beberapa istilah akronim lain yang mengartikan mudik yakni menuju udik, mulih dilik, mudun balik dan lain-lain.

Alasan masyarakat melakukan mudik pun biasanya karena rindu dengan orangtua, ingin silaturahmi dengan kerabat, ziarah makam sanak saudara atau ada juga karena sambil ingin jalan-jalan bertamsya.

Di Indonesia, mudik sudah menjadi akar tradisi dan budaya yang kuat karena terdapat nilai-nilai sosial dan spiritual yang terkandung didalamnya. Budaya silaturahmi dan saling mengunjungi dari rumah ke rumah saat Idulfitri adalah bentuk interaksi sosial yang harus terus dijaga dan jangan sampai pudar. Karena pada dasarnya manusia adalah mahluk sosial.

Kemudian tradisi nyekar yakni tradisi ziarah kubur atau mengunjungi makam anggota keluarga yang telah meninggal sambil memanjatkan doa bagi arwah yang telah dikuburkan, merupakan salah satu kandungan spiritual yang menyebabkan seseorang harus melakukan mudik. Bahkan dalam perspektif hukum agama, terdapat pendapat yang menyatakan bahwa mudik bersifat sunah.

Tak hanya di Indonesia, mudik saat perayaan Idulfitri juga dilakukan oleh banyak negara yang masyarakatnya menganut agama Islam, baik mayoritas maupun minoritas. Seperti Malaysia misalnya, negara yang masih satu rumpun ini melakukan tradisi mudik. Meskipun bahasa yang dipakai di Malaysia bukan mudik tetapi ‘balik kampung’.

Bangladesh, Turki, Arab Saudi, India adalah beberapa negara yang juga melakukan budaya mudik.

Pada situasi pandemi saat ini, ternyata aktivitas mudik menjadi sesuatu yang turut berperan besar dalam resiko penyebaran virus corona. Migrasi penduduk dengan jumlah yang signifikan, berpindah dari suatu tempat ke tempat lain akan berpotensi melemahkan penerapan herd immunity.

Penerapan herd immunity ini dalah suatu bentuk perlindungan secara tdak langsung dari serangan penyakit menular yang terbentuk ketika sebuh populasi memiliki imunitas/kekebalan.

Prediksi akan terjadinya lonjakan kasus penyintas Covid-19 pada momen mudik lebaran harus cepat dibaca dan direspon oleh pemerintah melaui kebijakan regulasi dan implementasinya.

Pemerintah melalui Satgas Penanganan Covid-19 baru-baru ini telah mengeluarkan addendum Surat Edaran Nomor 13 tahun 2021 tentang Peniadaan Mudik Hari Raya Idul Fitri dan Upaya Pengendalian Penyebaran covid-19.

Tujuan dari surat edaran ini pun sangat logis yakni untuk mengantisipasi peningkatan arus pergerakan penduduk yang berpotensi meningkatkan penularan Covid antar daerah. Pasca terbitnya kebijakan mengenai larangan mudik ini, muncul beragam respon dari masyarakat. Ada yang pro dan ada juga yang kontra.

Pihak yang pro menilai bahwa langkah pelarangan mudik jelang perayaan hari besar agama Islam sudah tepat karena melihat sisi manfaatnya lebih besar daripada sisi buruknya. Pada bagian lain, pelarangan mudik adalah bentuk pembelajaran atas apa yang terjadi di India.

Berdasarkan situs berita yang beredar, awal mula lonjakan dahsyat dengan angka mencapai 300.000 kasus per hari di India, merupakan rekor kasus penularan terbanyak di dunia, hal itu terjadi karena dipicu adanya festival keagamaan  Kumbh Mela.

Festival Kumbh Mela atau festival kendi dari India adalah salah satu ritual paling suci dalam agama Hindu. Ritual yang dirayakan empat kali selama 12 tahun itu dilakukan dengan cara mandi dan berendam bersama di sungai Gangga yang dipercaya sebagai tempat suci yang dapat membebaskan diri dari dosa dan dapat membawa keselamatan. Yang terjadi kemudian justru adalah malapetaka badai Covid melanda India.

Nah kembali lagi, sekarang bagaimana pandangan orang-orang yang kontra dengan kebijakan larangan mudik? Ternyata ada inkonsistensi kebijakan pemerintah yang membuat bingung masyarakat.

Saat aktivitas mudik dilarang, justru aktivitas pariwisata dan aktivitas kerumunan yang terjadi di pusat perbelanjaan tidak terkendali. Dengan dalih menjaga stabilitas perputaran ekonomi, namun tetapa saja tidak akan sebanding dengan biaya penanganan virus corona yang semkain besar dan masif.

Dilansir dari salah satu kabar yang tersiar dihttps://harian.kompas.com berjudul “Ratusan Pemudik Terobos Penyekatan di Karawang’’, menjadi bukti lemahnya punishment terhadap para pelanggar kebijakan serta lemahnya implentasi di lapangan yang dilakukan oleh petugas yang berwenang. Yang terjadi masyarakat kemudian malah berupaya mencari akal dan celah agar tetap bisa mudik.

Anomali tersebut semakin menandaskan ketidak-setujuan pihak yang kontra terhadap larangan mudik.

Mudik secara hakikatnya memiliki relevansi dengan makna Idulfitri yaitu kembali pulang pada fitrah. Selesainya ibadah Ramadan yang dijalankan selama sebulan penuh menjadikan insan yang kembali suci ibarat bayi yang baru saja lahir dan bersih dari dosa-dosa.

Mudik menjadi sebuah konotasi usaha kembalinya manusia terhadap asal usul penciptaanya. Mudik dapat menjadi perenungan perjalanan awal pencarian jati diri yang dimulai saat masa kecil, dewasa hingga tak terasa semakin menua. Di kampung halaman kita masing-masing itulah kita bisa menemukan ihwal perenungan itu.

Kini dengan adanya virus menular bernama corona, membatasi gerak langkah kita seluruhnya.

Apa daya, kesehatan dan keselamatan diri, keluarga dan lingkungan yang ada di kampung halaman harus menjadi prioritas penting yang harus dijaga.

Mudik dengan segala kemaslahatannya, masih mungkin dilakukan dengan cara dan media yang berbeda. Jika kita rindu orangtua dan sanak saudara, barangkali masih bisa diobati dengan pertemuan tatap muka dengan memanfaatkan teknologi komunikasi yang semakin canggih.

Untuk memberikan sebentuk kebahagiaan, bisa dilakukan dengan cara memberikan bingkisan dan aneka kebutuhan melalui jasa pengiriman pos. Transfer uang untuk bekal kebutuhan saudara di kampung halaman juga setidaknya bisa membantu meringankan di tengah situasi sulit seperti ini. Atau bagi yang punya pacar di kampung halaman, rajin-rajinlah komunikasi melalui Zoom dan video call.

oleh:r jumadi SDN 01 Banjit 

Minggu, 09 Mei 2021

💖💖 Adab Membawa Anak Bertamu 💖💖

Pada suatu hari, karena macet, kami memutar balik perjalanan, kami arahkan mobil ke sebuah perumahan untuk numpang muter aja,  lalu tanpa sengaja, ternyata kami melewati rumah seorang teman lama suami. Dan dia meminta kami mampir.

Kami serombongan dengan 4 anak. Menuju ruang tamunya yang mungil dan bersih.

Singkat cerita, di sana, juga ada tamu yang baru datang. sebuah keluarga -ayah, ibu dan 1 anak 7 tahunan-. Si anak langsung membuka toples kue nastar, membawa toples ke pangkuannya, dan lalu asyik makan. Kita panggil saja si anak "Boy" yaa. Badannya bongsor.

Nastar itu terlihat "mahal". Bentuknya seperti buah jambu. Cantik banget.

hampir setengah toples berpindah ke perut Boy. Sang Ayah sibuk mengobrol dengan tuan rumah, sang ibu sibuk dengan HP. Aku mengajak anak-anak ke teras luar yang adem, aku takut menjadi 'tertuduh' terlibat menghabiskan 1 toples kue mahal 😲

Nyonya rumah, santun berkata "namanya siapa Sayang? toplesnya taro sini aja yaa...biar nggak jatuh", nyonya berusaha 'meminta' toples kaca itu agar dikembalikan ke meja.  Menurutku ini 'kode' kalo dia keberatan dengan adab si Boy. Boy menolak. Tangannya tetap mengeruk kue yang udah abis nyaris separo. Mereka juga gak akrab kayaknya, buktinya nyonya rumah aja gak tau nama si anak.

"Dibagi dong teman-temannya, itu belum kebagian," kata si nyonya lagi menunjuk ke anak-anakku.  "Nggak mau!" Jawab Boy,

 Lama kemudian.

"Mau coba ini?" Nyonya rumah membuka toples astor. Sepertinya berusaha menawarkan alternatif agar gak hanya nastar jambu yang dimakan si Boy.

"Nggak mau," jawab si Boy lagi, berteriak.

"Boy suka banget sama nastar yaa," tutur nyonya rumah, suaranya tenang.

"Oiya... bisa abis setoples dia," sahut sang ayah. Si ibu mendongak sedikit dari HP. "Dia sukanya nastar sama sagu keju, bisa setoples sekali duduk abis, tapi kalo kastengel, sebiji pun dia lepeh, gak suka," kata si ibu tersenyum, lalu kembali ke HP.

Entah mengapa...aku menjadi gak nyaman. Pertama, aku liat di meja ini hanya ada 4 toples kue yang terlihat baru saja dibuka. Dan kalo 1 tamu menghabiskan 1 toples kue, gimana tamu-tamu berikutnya?

Dia nggak mengadakan open house besar-besaran. Bisa jadi stok kuenya juga gak banyak. Kehidupan mereka 'terlihat' juga gak berlebihan.

Selain itu, tau kan ya semahal apa harga kue kering lebaran? Setoples itu bisa jadi 90ribuan. Belum tentu masih ada stok di belakang.

Aku beberapa kali menangkap mata nyonya rumah gelisah  melirik ke si Boy. Dia berusaha ramah maksimal dengan membukakan astor, kripik pisang coklat dan kerupuk udang. Tapi Boy gak peduli, pun ayah ibunya,  nastar itu sekarang bersisa sepertiga 😌😌😲😲. Aku gak tau lanjutannya. Karena kami pamit duluan.

Menurutku, sangat penting mengajarkan adab bertamu pada anak-anak. Apa yang boleh dan tak boleh. 

Di rumah sendiri, anak-anak boleh saja memakan apa saja sampai abis, Tapi kalo di rumah orang gak boleh begitu.

Tamu orang rumah, gak hanya kita saja. Ini penting dikasih tau ke anak-anak, agar mereka gak egois.

Harga kue itu mahal. Gak semua orang bisa bikin kue. Banyak yang beli. Kalo diitung sebutir nastar itu harganya bisa 3ribu. Jadi bisa ajarkan anak-anak kalo makan kue di rumah orang, gak boleh banyak. Maksimal 2 atau 3 butir saja per jenis kue. Kalo bisa pun hanya makan maksimal 2 jenis kue saja.

Nah, kadang anak gak patuh, jadi 'rakus' saat di rumah orang, bisa jadi karena mereka memang lapar. Jadi penting banget memastikan perut anak udah terisi saat mau bertamu ke rumah orang, antisipasi kemacetan dengan bawa cemilan. Jadi sampai di rumah orang, anak tidak dalam kondisi lapar. anak-anak lebih gampang 'ditaklukkan' saat mereka tidak lapar. Percayalah!

Saat ke rumah nenek atau Bu De atau tante, atau saudara yang bener-bener deket dan akrab, di mana kedatangan kita memang sangat mereka nantikan dan mereka memang udah prepare banget menyambut kita, tentu boleh agak lentur. Misal saat kami ke rumah kakak kandungku. Memang hanya kami saudara kandung mereka di kota ini. Jadi bolehlah agak santai, makan ketupat nambah, pake rendang, opor, telur, kue-kue,  dll. 

Tapi kalo bertamu ke rumah orang, jelas harus ada ADAB yang dikenalkan ke anak. Kalo anak belum mau mengerti, maka jadilah orangtua yang tau diri.

 Misal, bertamu jangan kelamaan, ajak anak ngobrol, liat udara luar, atau berinteraksi dengan tamu lain. Anak-anak kan gampang akrab sama teman baru, jadi ajak main sama teman baru sehingga si anak nggak melulu fokus ke menghabiskan kue tuan rumah. Saat bertamu pun, cobalah paksakan diri untuk TIDAK MELIHAT HP. fokuslah pada hidup yang nyata, jangan malah mengurus yang maya tapi mengabaikan yang nyata.

Begitu pun saat anak ke toilet, kalo masih kecil, walaupun anak udah biasa ke toilet sendiri di rumah, saat di rumah orang, tetap temenin.

Toilet kan beda-beda. Aku pernah nemuin anak yang nggak menyiram abis pake toilet, sementara ibunya main HP. 

Aku suruh siram, "nggak ada gayung," jawab si anak.

 Kemungkinan di rumah dia biasa pake toilet jongkok dengan siram manual. Jadi saat menemukan toilet duduk dengan pencetan siraman, dia nggak ngerti. Jadilah dia meninggalkan toilet dengan kondisi kotor.

Memang yaa...saat bertamu ke rumah orang membawa anak-anak, kita harus selalu 'menimbang rasa' ke tuan rumah. Jangan terlalu berharap bisa ngobrol-ngobrol seru tanpa batas, sementara anak-anak juga bebas lepas. Jangan!

Tetap waspada. Pasang mata telinga mengawasi anak-anak kita.

Jangan sampai menimbulkan ketidaknyamanan pada tuan rumah.

Kalo ada tuan/nyonya rumah yang memberikan kode agar beralih ke kue lain, jangan dibilang pelit. Cobalah memahami posisi mereka.

Tamu mereka bisa jadi banyak yang mau datang setelah kita...

Stok kue dan makanan mereka mungkin gak banyak..

Kondisi keuangan mereka mungkin sedang tak bagus untuk membuat/membeli kue dalam jumlah banyak..

Mereka bisa jadi sedang menunggu tamu yang istimewa di hati mereka, misal kakak/adik kandung dan mereka juga ingin kue-kue enak ini dicicipi oleh orang kesayangan mereka..

Untuk anak yang masih kecil, temenin mereka ke toilet, untuk memastikan agar anak tak meninggalkan toilet orang lain dalam kondisi tak bersih.

Intinya... adab! Adab! Adab! 

Kalau anak belum mengerti, kita orangtua kan udah tua, kita yang harus mengerti. Jangan membiarkan anak sesuka dia dengan kalimat "namanya juga anak-anak" . Kemudahan dengan menelantarkan adab, bisa jadi kelak inilah yang akan menyulitkan masa depan anak.

Selamat bersilaturahhim. Jangan lupa sematkan ADAB dimanapun!

By : Fitra Wilis masril
Editor :R jumadi

*menulis caraku menasehati diri

Pengertian Wartawan – Perbedaan, Tujuan, Jenis, Indikator, Tugas, Sifat, Standar

Pengertian Wartawan – Perbedaan, Tujuan, Jenis, Indikator, Tugas, Sifat, Standar :Merupakan orang yang pekerjaannya mencari, mengumpulkan, memilih, mengolah berita dan menyajikan secepatnya kepada masyarakat luas melalui media massa,


Reporters

Pengertian Wartawan
Daftar Baca Cepat  tampilkan 

Wartawan merupakan orang yang pekerjaannya mencari, mengumpulkan, memilih, mengolah berita dan menyajikan secepatnya kepada masyarakat luas melalui media massa, baik yang tercetak maupun elektronik. Yang dapat disebut sebagai wartawan ialah repoter, editor, juru kamera berita, juru foto berita, redaktur dan editor audio visual.


Baca Juga Artikel Yang Mungkin Berhubungan : Pengertian Surat Kabar Atau Koran Menurut Buku Beserta Contoh Dan Macamnya


Definisi wartawan yang tercantum dalam pasal 1 butir 4 undang-undang nomor 40 tahun 1999 perlu diubah, sehingga berbunyi :

“wartawan adalah profesi yang secara teratur melakukan kegiatan jurnalistik dalam bentuk mencari, memperoleh, memiliki, menyimpan, mengolah, dan menyampaikna informasi kepada perusahaan pers atau kantor berita untuk disiarkan/dipublikasikan kepada masyarakat umum, agar mereka memperoleh informasi yang benar, tepat, akurat, dan objektif”.


Wartawan, jangan diartikan sebagai orang seperti hartawan = orang yang mempunyai harta, ilmuwan = orang yang memiliki ilmu ( orang berilmu ) dan dermawan = orang yang suka beramal, karena hartawan, ilmuwan, dan dermawan, menunjukkan seseorang; sedangkan wartawan, dokter, dan advokat menunjukkan profesi .


Perbedaan Jurnalis, Wartawan, Dan Reporter

1. Jurnalis memiliki makna sama : sebuah profesi yang tugasnya mencari,
2. Wartawan mengumpulkan, menyeleksi dan menyebarluaskan informasi kepada
3. Reporter khalayak melalui media massa.


Istilah lain dari wartawan adalah jurnalis atau journalist yang mempunyai arti :

  1. Seorang yang melakukan tugas di bidang pers .
  2. Seseorang yang bertugas mencari , menyusun , dan menyunting berita yang akan dimuat dalam media massa .
  3. Seseorang yang pekerjaanya mengedit, (merangkum) menulis berita, artikel, dan bahan berita lainya, untuk dipublikasikan secara periodical : termasuk surat kabar serta majalah, mingguan, dan bulanan .

Tujuan Wartawan

Tujuan wartawan melakukan wawancara ialah untuk memperoleh informasi, namun informasi macam apa yang ingin digali, bisa dirinci sebagai berikut:


  • Untuk memperoleh fakta.
  • Guna memperoleh fakta yang penting dari suatu wawancara, repoter harus menemukan sumber yang kredibel dan bisa dipercaya dengan informasi akurat.
  • Wartawan bisa saja mewawancarai orang yang kebetulan ditemui di jalan untuk dimintai pendapatnya tentang kondisi krisis ekonomi.

Jenis-Jenis Wartawan

Adapun jenis-jenis wartawan yaitu:


Baca Juga Artikel Yang Mungkin Berhubungan : 17 Pengertian Berita Menurut Para Ahli Terlengkap


Wartawan Profesional

Wartawan professional ialah wartawan yang menjadikan kegiatan kewartawanan sebagai profesi. Tugas tersebut dilaksanakan sebagaio profesi atau pekerjaan.


Wartawan Free Lance

Wartawan free lance ialah wartawan yang tidak tergantung pada satu kabar atau berita saja. Ia melakukan tiga kewartawanan. Sedangkan karyanya disalurkan ke berbagai media, jadi tidak terikal oleh satu penerbitan atau satu surat kabar.


Koresponden

Istilah ini sering dipakaui untuk menyebut wartawan yang bertugas di daerah dan tidak berada pada satu kota dengan pusat penerbitan. Mereka bekerja dan menulis berita dan dikirim melalui pos, facsimile, modem, telephon, dan sarana komunikasi lainnya.


Wartawan Kantor Berita

Wartawan kantor berita ialah seorang wartawan dari satu kantor berita atau new pers agency. Wartawan ini mencari berita untuk suatau kantor berita kemudian beritanya di salurkan atau dijual ke berbagai lembaga penerbitan yang membutuhkan.


Indikator wartawan

Beberapa indikator ini diharapkan dapat membantu pelaksanaan tugas kewartawanan diantaranya :

  1. Kompleksitas
  2. Generalis
  3. Peka terhadap setiap peristiwa

Tugas Dari Seorang Wartawan

Tugas dari seorang wartawan ialah reporting. Reporting ialah bentuk pelaporan yang memerlukan kemampuan untuk melaporkan dan menulis tentang berbagai topik. Wartawan melakukan pelaporan dalam berbagai outlet berita, seperti surata kabar, stasiun televisi berita dan stasiun radio berita, dimana tugasnya mengumpulkan berita.


Sifat Wartawan

Sifat-sifat wartawan menurut J.ccasiy(meinanda1981:70) mengatakan pertama-tama orang harus mempunyai mat adan telinga, bahkan lidah yang licin ada gunanya . mata digunakan untuk mengamati seecermatnya.


telinga dipergunakan untuk mendenbgarkan berita atau informasi. sementara lidah yang licin dipeunakan untuk mengajak penbicara kepada persoalan. dalam hubungan dengan profesi kewartawanan, Carl N. Warren (Meinanda, 1981:71-72) memberikan sepuluh pasangan untuk menjadi wartawan yang baik, yakni :


Baca Juga Artikel Yang Mungkin Berhubungan : 8 Jenis, Bentuk Dan Pengertian Wawancara Menurut Para Ahli Beserta Contohnya


  1. Perhatikan dengan sebaik-bainya. Dengarkan dengan sungguh-sungguh;
  2. Isi persediaan otak dengan pengetahuan;
  3. Tumbuhkan lapangan yang luas;
  4. Membacalah dengan teratur dan dengan pikiran yang kritis;
  5. Perlihatkan inisiatif dan kesanggupan;

  6. Bekerja dengan rajin dan sabar;

  7. Pergunakanlah pikiran. Janganlah memalsukan sesuatu;
  8. Menulislah, dan teruslah menulis;
  9. Berpikirlah dengan jelas dan cepat;
  10. Pergunakanlah waktiu yang terluang dengan sebaik-baiknya.
  11. Sepuluh Persyaratan Menjadi Jurnalis

Disamping harus memenuhi persyaratan umum, seperti pendidikan yang cukup (diutamakan sarjana), berkelakuan baik, dan sehat jasmani dan rohani, untuk menjadi jurnalis atau wartawan atau reporter.


Standar Wartawan Profesional

Berikut Ini Merupakan Standar Wartawan Profesional.

1. Melalui proses penerimaan yang baik (Well Selected)

Tidak semua orang cocok dan mampu menjadi wartawan , meskipun banyak orang ingin jadi wartawan atau reporter . menjadi wartawan haruslah merupakan panggilan hidup . tidak sekedar untuk mencari nafkah , dengan demikian dalam hal untuk mendapatkan calon wartawan harus melalui seleksi yang baik . seleksi sangat penting , terutama untuk mengetahui apakah orang itu memiliki kepribadian sebagai wartawan atau tidak , dan untuk mengetahui tingkat kemampuan akademisnya.


2. Berpendidikan formal yang cukup (Well Educated)

Tidak dapat dipungkiri bahwa tingkat pendidikan seseorang sangat berpengarugh terhadap kualitas pekerjaan seseorang termasuk seorang reporter . sesuai dengan dengan perkembangan iptek, saat ini , untuk menjadi wartawan atau reporter di prioritaskan mereka yang sarjana (S1) atau lebih .penting , menginmgat tugas-tugas kewartawanan membutuhkan kemampuan analisis yang tinggi serta kemampuan berkomunikasi dengan berbagai pihak pada berbagai level .


3. Terlatih dengan baik (Well Trained)

Pendidikan formal yang cukup saja belum menjamin seorang wartawan dapat bekerja dengan baik jika belum mendapat pelatihan khusus tentang profesi wartawan pelatihan kewartawanan misalnyta terkait : kode etik jurnalistik , undang-undang dan peraturan-peraturan terkait media massa .


dengan demikian tanpa pelatihan khusus , maka seorang wartawan atau jurnalis hanya akan memahami pekerjaanya secara umum untuk media ,masaa pada umumnya , padahal setiap media masaa sudah pasti memiliki cirri dan kebijakan sendiri .


Baca Juga Artikel Yang Mungkin Berhubungan : “Wartawan” Pengertian & ( Tujuan – Jenis – Tugas )


4. Dilengkapi dengan peralatan yang memadai (Well Equiped)

Dalam melaksanakan tugas liputan di lapangan seorang wartawan , juru kamera akan sulit melakukan tugas dengan baik apabila tidak memiliki peralatan yang memadai . oleh karena itu , supaya wartawan dapat bekerja dengan baik ia harus dilengkapi peralatan yang memadai , seperti : alat tulis, tape recorder , kamera foto , kamera tv , alat komunikasi ,computer dan tentu saja alat transportasi.


5. Memperoleh gaji yang layak (Good Salary)

Bagaimana pun profesionalnya seseorang , akhirnya jumlah gaji yang diterima dari hasil pekerjaanya tetap menentukan apakah ia dapat bekerja denganb baik atau tidak . dengan gaji yang cukup ia dapat menafkahi keluarganya . sebaliknya , apabila gaji yang tidak cukup pemikiranya akan terganggu terpecah antara memikirkan tugas dengan memikirkan apakah anaknya bisa belajar dengan baik atau tidak , karena uang sekolahnya belum terbayarkan .


professional memang tetap di utamakan namun kesejahteraan tetap turut menetukan dan mempengaruhi kelancaran dan kualitas pekerjaan wartawan . intinya , menjadi wartawan haruslah menjadi panggilan hidup sehingga profesionalisme tidak dengan mudah terkalahkan dalam hambatan dan tantangan dalam tugas .


6. Memilki motivasi yang baik dan idealisme yang tinggi (Well motivation and High Idealism)

apabila seorang wartawan memiliki keduanya yaitu motivasi dan idealism kerja yang tinngi , maka sekompleks apapun tugas yang dihadapi dan kendala yang dihadapi pasti ditangani dengan baik.


Baca Juga Artikel Yang Mungkin Berhubungan : “Kebebasan Pers” Pengertian & ( Dampak Positif – Negatif )

Mungkin Dibawah Ini yang Kamu Cari
MUNGKIN ANDA SUKA
MgidMgid



Editor : R.jumadi
Sumber: gurupendidikan.com