Minggu, 12 September 2021
Hari Pertama Pembelajaran Tatap Muka DiSDN 01 Banjit Perketat Protokol kesehatan..
Jumat, 04 Juni 2021
Kisah seekor induk burung yang ditangkap manusia.
Selasa, 11 Mei 2021
LEBARAN TANPA MUDIK ASYIK.
Banjit--Kalau sudah mendekati Hari Raya Idulfitri, tak afdol rasanya jika tidak mudik. Terutama bagi yang jauh dari kampung halaman.
Karena kata mudik itu sendiri, sesuai dengan KBBI (Kamus Besar Bahasa Indonesia) berarti pulang ke kampung halaman. Ada juga beberapa istilah akronim lain yang mengartikan mudik yakni menuju udik, mulih dilik, mudun balik dan lain-lain.
Alasan masyarakat melakukan mudik pun biasanya karena rindu dengan orangtua, ingin silaturahmi dengan kerabat, ziarah makam sanak saudara atau ada juga karena sambil ingin jalan-jalan bertamsya.
Di Indonesia, mudik sudah menjadi akar tradisi dan budaya yang kuat karena terdapat nilai-nilai sosial dan spiritual yang terkandung didalamnya. Budaya silaturahmi dan saling mengunjungi dari rumah ke rumah saat Idulfitri adalah bentuk interaksi sosial yang harus terus dijaga dan jangan sampai pudar. Karena pada dasarnya manusia adalah mahluk sosial.
Kemudian tradisi nyekar yakni tradisi ziarah kubur atau mengunjungi makam anggota keluarga yang telah meninggal sambil memanjatkan doa bagi arwah yang telah dikuburkan, merupakan salah satu kandungan spiritual yang menyebabkan seseorang harus melakukan mudik. Bahkan dalam perspektif hukum agama, terdapat pendapat yang menyatakan bahwa mudik bersifat sunah.
Tak hanya di Indonesia, mudik saat perayaan Idulfitri juga dilakukan oleh banyak negara yang masyarakatnya menganut agama Islam, baik mayoritas maupun minoritas. Seperti Malaysia misalnya, negara yang masih satu rumpun ini melakukan tradisi mudik. Meskipun bahasa yang dipakai di Malaysia bukan mudik tetapi ‘balik kampung’.
Bangladesh, Turki, Arab Saudi, India adalah beberapa negara yang juga melakukan budaya mudik.
Pada situasi pandemi saat ini, ternyata aktivitas mudik menjadi sesuatu yang turut berperan besar dalam resiko penyebaran virus corona. Migrasi penduduk dengan jumlah yang signifikan, berpindah dari suatu tempat ke tempat lain akan berpotensi melemahkan penerapan herd immunity.
Penerapan herd immunity ini dalah suatu bentuk perlindungan secara tdak langsung dari serangan penyakit menular yang terbentuk ketika sebuh populasi memiliki imunitas/kekebalan.
Prediksi akan terjadinya lonjakan kasus penyintas Covid-19 pada momen mudik lebaran harus cepat dibaca dan direspon oleh pemerintah melaui kebijakan regulasi dan implementasinya.
Pemerintah melalui Satgas Penanganan Covid-19 baru-baru ini telah mengeluarkan addendum Surat Edaran Nomor 13 tahun 2021 tentang Peniadaan Mudik Hari Raya Idul Fitri dan Upaya Pengendalian Penyebaran covid-19.
Tujuan dari surat edaran ini pun sangat logis yakni untuk mengantisipasi peningkatan arus pergerakan penduduk yang berpotensi meningkatkan penularan Covid antar daerah. Pasca terbitnya kebijakan mengenai larangan mudik ini, muncul beragam respon dari masyarakat. Ada yang pro dan ada juga yang kontra.
Pihak yang pro menilai bahwa langkah pelarangan mudik jelang perayaan hari besar agama Islam sudah tepat karena melihat sisi manfaatnya lebih besar daripada sisi buruknya. Pada bagian lain, pelarangan mudik adalah bentuk pembelajaran atas apa yang terjadi di India.
Berdasarkan situs berita yang beredar, awal mula lonjakan dahsyat dengan angka mencapai 300.000 kasus per hari di India, merupakan rekor kasus penularan terbanyak di dunia, hal itu terjadi karena dipicu adanya festival keagamaan Kumbh Mela.
Festival Kumbh Mela atau festival kendi dari India adalah salah satu ritual paling suci dalam agama Hindu. Ritual yang dirayakan empat kali selama 12 tahun itu dilakukan dengan cara mandi dan berendam bersama di sungai Gangga yang dipercaya sebagai tempat suci yang dapat membebaskan diri dari dosa dan dapat membawa keselamatan. Yang terjadi kemudian justru adalah malapetaka badai Covid melanda India.
Nah kembali lagi, sekarang bagaimana pandangan orang-orang yang kontra dengan kebijakan larangan mudik? Ternyata ada inkonsistensi kebijakan pemerintah yang membuat bingung masyarakat.
Saat aktivitas mudik dilarang, justru aktivitas pariwisata dan aktivitas kerumunan yang terjadi di pusat perbelanjaan tidak terkendali. Dengan dalih menjaga stabilitas perputaran ekonomi, namun tetapa saja tidak akan sebanding dengan biaya penanganan virus corona yang semkain besar dan masif.
Dilansir dari salah satu kabar yang tersiar dihttps://harian.kompas.com berjudul “Ratusan Pemudik Terobos Penyekatan di Karawang’’, menjadi bukti lemahnya punishment terhadap para pelanggar kebijakan serta lemahnya implentasi di lapangan yang dilakukan oleh petugas yang berwenang. Yang terjadi masyarakat kemudian malah berupaya mencari akal dan celah agar tetap bisa mudik.
Anomali tersebut semakin menandaskan ketidak-setujuan pihak yang kontra terhadap larangan mudik.
Mudik secara hakikatnya memiliki relevansi dengan makna Idulfitri yaitu kembali pulang pada fitrah. Selesainya ibadah Ramadan yang dijalankan selama sebulan penuh menjadikan insan yang kembali suci ibarat bayi yang baru saja lahir dan bersih dari dosa-dosa.
Mudik menjadi sebuah konotasi usaha kembalinya manusia terhadap asal usul penciptaanya. Mudik dapat menjadi perenungan perjalanan awal pencarian jati diri yang dimulai saat masa kecil, dewasa hingga tak terasa semakin menua. Di kampung halaman kita masing-masing itulah kita bisa menemukan ihwal perenungan itu.
Kini dengan adanya virus menular bernama corona, membatasi gerak langkah kita seluruhnya.
Apa daya, kesehatan dan keselamatan diri, keluarga dan lingkungan yang ada di kampung halaman harus menjadi prioritas penting yang harus dijaga.
Mudik dengan segala kemaslahatannya, masih mungkin dilakukan dengan cara dan media yang berbeda. Jika kita rindu orangtua dan sanak saudara, barangkali masih bisa diobati dengan pertemuan tatap muka dengan memanfaatkan teknologi komunikasi yang semakin canggih.
Untuk memberikan sebentuk kebahagiaan, bisa dilakukan dengan cara memberikan bingkisan dan aneka kebutuhan melalui jasa pengiriman pos. Transfer uang untuk bekal kebutuhan saudara di kampung halaman juga setidaknya bisa membantu meringankan di tengah situasi sulit seperti ini. Atau bagi yang punya pacar di kampung halaman, rajin-rajinlah komunikasi melalui Zoom dan video call.
oleh:r jumadi SDN 01 Banjit
Minggu, 09 Mei 2021
💖💖 Adab Membawa Anak Bertamu 💖💖
Pengertian Wartawan – Perbedaan, Tujuan, Jenis, Indikator, Tugas, Sifat, Standar
Pengertian Wartawan – Perbedaan, Tujuan, Jenis, Indikator, Tugas, Sifat, Standar :Merupakan orang yang pekerjaannya mencari, mengumpulkan, memilih, mengolah berita dan menyajikan secepatnya kepada masyarakat luas melalui media massa,
Wartawan merupakan orang yang pekerjaannya mencari, mengumpulkan, memilih, mengolah berita dan menyajikan secepatnya kepada masyarakat luas melalui media massa, baik yang tercetak maupun elektronik. Yang dapat disebut sebagai wartawan ialah repoter, editor, juru kamera berita, juru foto berita, redaktur dan editor audio visual.
Baca Juga Artikel Yang Mungkin Berhubungan : Pengertian Surat Kabar Atau Koran Menurut Buku Beserta Contoh Dan Macamnya
Definisi wartawan yang tercantum dalam pasal 1 butir 4 undang-undang nomor 40 tahun 1999 perlu diubah, sehingga berbunyi :
“wartawan adalah profesi yang secara teratur melakukan kegiatan jurnalistik dalam bentuk mencari, memperoleh, memiliki, menyimpan, mengolah, dan menyampaikna informasi kepada perusahaan pers atau kantor berita untuk disiarkan/dipublikasikan kepada masyarakat umum, agar mereka memperoleh informasi yang benar, tepat, akurat, dan objektif”.
Wartawan, jangan diartikan sebagai orang seperti hartawan = orang yang mempunyai harta, ilmuwan = orang yang memiliki ilmu ( orang berilmu ) dan dermawan = orang yang suka beramal, karena hartawan, ilmuwan, dan dermawan, menunjukkan seseorang; sedangkan wartawan, dokter, dan advokat menunjukkan profesi .
Perbedaan Jurnalis, Wartawan, Dan Reporter
1. Jurnalis memiliki makna sama : sebuah profesi yang tugasnya mencari,
2. Wartawan mengumpulkan, menyeleksi dan menyebarluaskan informasi kepada
3. Reporter khalayak melalui media massa.
Istilah lain dari wartawan adalah jurnalis atau journalist yang mempunyai arti :
- Seorang yang melakukan tugas di bidang pers .
- Seseorang yang bertugas mencari , menyusun , dan menyunting berita yang akan dimuat dalam media massa .
- Seseorang yang pekerjaanya mengedit, (merangkum) menulis berita, artikel, dan bahan berita lainya, untuk dipublikasikan secara periodical : termasuk surat kabar serta majalah, mingguan, dan bulanan .
Tujuan Wartawan
Tujuan wartawan melakukan wawancara ialah untuk memperoleh informasi, namun informasi macam apa yang ingin digali, bisa dirinci sebagai berikut:
- Untuk memperoleh fakta.
- Guna memperoleh fakta yang penting dari suatu wawancara, repoter harus menemukan sumber yang kredibel dan bisa dipercaya dengan informasi akurat.
- Wartawan bisa saja mewawancarai orang yang kebetulan ditemui di jalan untuk dimintai pendapatnya tentang kondisi krisis ekonomi.
Jenis-Jenis Wartawan
Adapun jenis-jenis wartawan yaitu:
Baca Juga Artikel Yang Mungkin Berhubungan : 17 Pengertian Berita Menurut Para Ahli Terlengkap
Wartawan Profesional
Wartawan professional ialah wartawan yang menjadikan kegiatan kewartawanan sebagai profesi. Tugas tersebut dilaksanakan sebagaio profesi atau pekerjaan.
Wartawan Free Lance
Wartawan free lance ialah wartawan yang tidak tergantung pada satu kabar atau berita saja. Ia melakukan tiga kewartawanan. Sedangkan karyanya disalurkan ke berbagai media, jadi tidak terikal oleh satu penerbitan atau satu surat kabar.
Koresponden
Istilah ini sering dipakaui untuk menyebut wartawan yang bertugas di daerah dan tidak berada pada satu kota dengan pusat penerbitan. Mereka bekerja dan menulis berita dan dikirim melalui pos, facsimile, modem, telephon, dan sarana komunikasi lainnya.
Wartawan Kantor Berita
Wartawan kantor berita ialah seorang wartawan dari satu kantor berita atau new pers agency. Wartawan ini mencari berita untuk suatau kantor berita kemudian beritanya di salurkan atau dijual ke berbagai lembaga penerbitan yang membutuhkan.
Indikator wartawan
Beberapa indikator ini diharapkan dapat membantu pelaksanaan tugas kewartawanan diantaranya :
- Kompleksitas
- Generalis
- Peka terhadap setiap peristiwa
Tugas Dari Seorang Wartawan
Tugas dari seorang wartawan ialah reporting. Reporting ialah bentuk pelaporan yang memerlukan kemampuan untuk melaporkan dan menulis tentang berbagai topik. Wartawan melakukan pelaporan dalam berbagai outlet berita, seperti surata kabar, stasiun televisi berita dan stasiun radio berita, dimana tugasnya mengumpulkan berita.
Sifat Wartawan
Sifat-sifat wartawan menurut J.ccasiy(meinanda1981:70) mengatakan pertama-tama orang harus mempunyai mat adan telinga, bahkan lidah yang licin ada gunanya . mata digunakan untuk mengamati seecermatnya.
telinga dipergunakan untuk mendenbgarkan berita atau informasi. sementara lidah yang licin dipeunakan untuk mengajak penbicara kepada persoalan. dalam hubungan dengan profesi kewartawanan, Carl N. Warren (Meinanda, 1981:71-72) memberikan sepuluh pasangan untuk menjadi wartawan yang baik, yakni :
Baca Juga Artikel Yang Mungkin Berhubungan : 8 Jenis, Bentuk Dan Pengertian Wawancara Menurut Para Ahli Beserta Contohnya
- Perhatikan dengan sebaik-bainya. Dengarkan dengan sungguh-sungguh;
- Isi persediaan otak dengan pengetahuan;
- Tumbuhkan lapangan yang luas;
- Membacalah dengan teratur dan dengan pikiran yang kritis;
- Perlihatkan inisiatif dan kesanggupan;
Bekerja dengan rajin dan sabar;
- Pergunakanlah pikiran. Janganlah memalsukan sesuatu;
- Menulislah, dan teruslah menulis;
- Berpikirlah dengan jelas dan cepat;
- Pergunakanlah waktiu yang terluang dengan sebaik-baiknya.
- Sepuluh Persyaratan Menjadi Jurnalis
Disamping harus memenuhi persyaratan umum, seperti pendidikan yang cukup (diutamakan sarjana), berkelakuan baik, dan sehat jasmani dan rohani, untuk menjadi jurnalis atau wartawan atau reporter.
Standar Wartawan Profesional
Berikut Ini Merupakan Standar Wartawan Profesional.
1. Melalui proses penerimaan yang baik (Well Selected)
Tidak semua orang cocok dan mampu menjadi wartawan , meskipun banyak orang ingin jadi wartawan atau reporter . menjadi wartawan haruslah merupakan panggilan hidup . tidak sekedar untuk mencari nafkah , dengan demikian dalam hal untuk mendapatkan calon wartawan harus melalui seleksi yang baik . seleksi sangat penting , terutama untuk mengetahui apakah orang itu memiliki kepribadian sebagai wartawan atau tidak , dan untuk mengetahui tingkat kemampuan akademisnya.
2. Berpendidikan formal yang cukup (Well Educated)
Tidak dapat dipungkiri bahwa tingkat pendidikan seseorang sangat berpengarugh terhadap kualitas pekerjaan seseorang termasuk seorang reporter . sesuai dengan dengan perkembangan iptek, saat ini , untuk menjadi wartawan atau reporter di prioritaskan mereka yang sarjana (S1) atau lebih .penting , menginmgat tugas-tugas kewartawanan membutuhkan kemampuan analisis yang tinggi serta kemampuan berkomunikasi dengan berbagai pihak pada berbagai level .
3. Terlatih dengan baik (Well Trained)
Pendidikan formal yang cukup saja belum menjamin seorang wartawan dapat bekerja dengan baik jika belum mendapat pelatihan khusus tentang profesi wartawan pelatihan kewartawanan misalnyta terkait : kode etik jurnalistik , undang-undang dan peraturan-peraturan terkait media massa .
dengan demikian tanpa pelatihan khusus , maka seorang wartawan atau jurnalis hanya akan memahami pekerjaanya secara umum untuk media ,masaa pada umumnya , padahal setiap media masaa sudah pasti memiliki cirri dan kebijakan sendiri .
Baca Juga Artikel Yang Mungkin Berhubungan : “Wartawan” Pengertian & ( Tujuan – Jenis – Tugas )
4. Dilengkapi dengan peralatan yang memadai (Well Equiped)
Dalam melaksanakan tugas liputan di lapangan seorang wartawan , juru kamera akan sulit melakukan tugas dengan baik apabila tidak memiliki peralatan yang memadai . oleh karena itu , supaya wartawan dapat bekerja dengan baik ia harus dilengkapi peralatan yang memadai , seperti : alat tulis, tape recorder , kamera foto , kamera tv , alat komunikasi ,computer dan tentu saja alat transportasi.
5. Memperoleh gaji yang layak (Good Salary)
Bagaimana pun profesionalnya seseorang , akhirnya jumlah gaji yang diterima dari hasil pekerjaanya tetap menentukan apakah ia dapat bekerja denganb baik atau tidak . dengan gaji yang cukup ia dapat menafkahi keluarganya . sebaliknya , apabila gaji yang tidak cukup pemikiranya akan terganggu terpecah antara memikirkan tugas dengan memikirkan apakah anaknya bisa belajar dengan baik atau tidak , karena uang sekolahnya belum terbayarkan .
professional memang tetap di utamakan namun kesejahteraan tetap turut menetukan dan mempengaruhi kelancaran dan kualitas pekerjaan wartawan . intinya , menjadi wartawan haruslah menjadi panggilan hidup sehingga profesionalisme tidak dengan mudah terkalahkan dalam hambatan dan tantangan dalam tugas .
6. Memilki motivasi yang baik dan idealisme yang tinggi (Well motivation and High Idealism)
apabila seorang wartawan memiliki keduanya yaitu motivasi dan idealism kerja yang tinngi , maka sekompleks apapun tugas yang dihadapi dan kendala yang dihadapi pasti ditangani dengan baik.
Baca Juga Artikel Yang Mungkin Berhubungan : “Kebebasan Pers” Pengertian & ( Dampak Positif – Negatif )
Jumat, 26 Februari 2021
KELUARGA BESAR SDN 01 BANJIT MENGUCAPKAN SELAMAT DAN SUKSES ATAS DILANTIKNYA RADEN ADIPATI SURYA,SH,MM DAN DRS ALI RAHMAN, ST,.MT SEBAGAI BUPATI DAN WAKIL BUPATI WAYKANAN PERIODE 2020 - 2024
Kamis, 25 Februari 2021
KEGIATAN HARI PEDULI SAMPAH NASIONAL (HPSN) SDN CENTER (SDN 01 BANJIT)
Hari Peduli Sampah Nasional (HPSN)merupakan peringatan peristiwa yang terjadi pada tanggal 21 Februari 2005 silam. Akibat curah hujan yang tinggi danledakan gas metana pada tumpukan sampah di TPA Leuwigajah Cimahi, menyebabkan 157 orang meninggal.
Hari Peduli Sampah Nasional merupakanmomen berharga untuk peduli terhadap kebersihan lingkungan, terutama dalam pengelolaan sampah dengan langkah sederhana yaitu Reduce, Reuse, Recycle (3R).





